prnusambongdukuh@gmail.com 085101983375/081330893547
Musyran NU Sambongdukuh 2026–2031, Saat Tradisi dan Masa Depan Berjabat Tangan
Kegiatan 20 April 2026 Administrator NU 8 dibaca

Musyran NU Sambongdukuh 2026–2031, Saat Tradisi dan Masa Depan Berjabat Tangan

Sambongdukuh, Jombang — Di sebuah desa yang denyutnya tak pernah jauh dari lantunan doa dan tradisi, Musyawarah Ranting Nahdlatul Ulama (Musyran NU) Masa Khidmah 2026–2031 hadir bukan sekadar forum lima tahunan. Ia menjelma menjadi ruang pertemuan antara masa lalu yang dijaga dan masa depan yang dirancang—sebuah ikhtiar sunyi namun bermakna untuk menjaga nyala jam’iyah dan jama’ah di akar rumput.

Musyran ini merupakan forum permusyawaratan tertinggi di tingkat ranting, struktur paling dasar dalam tubuh NU. Digelar setiap lima tahun sebagaimana amanat organisasi, forum ini menjadi momen penting untuk mempertanggungjawabkan perjalanan, menyulam regenerasi, sekaligus menguatkan kembali barisan Nahdliyin di tingkat desa.

Sebanyak 72 jama’ah dari berbagai unsur hadir, memenuhi ruang musyawarah dengan semangat yang hangat dan khidmat. Mereka datang bukan hanya sebagai peserta, tetapi sebagai penjaga tradisi yang sadar bahwa NU bukan sekadar organisasi—melainkan rumah besar yang diwariskan lintas generasi.

Nafas Organisasi yang Terjaga

Musyran diadakan bukan hanya untuk pergantian kepengurusan, melainkan sebagai “nafas” organisasi agar tetap hidup dan relevan. Dalam forum ini, pengurus lama menyampaikan Laporan Pertanggungjawaban (LPJ) yang disambut dengan apresiasi tinggi dari jama’ah. Tanpa banyak riak, laporan diterima dengan penuh kepercayaan—sebuah tanda bahwa perjalanan lima tahun terakhir dinilai berjalan dengan baik.

Namun lebih dari itu, Musyran menjadi ruang kaderisasi. Ia membuka jalan bagi lahirnya pemimpin baru, atau menguatkan kembali amanah lama dengan kepercayaan yang diperbarui.

Dinamika yang Menguatkan

Rangkaian kegiatan berlangsung dalam satu hari penuh, dimulai dari pembukaan yang sarat makna: ayat suci Al-Qur’an menggema, lagu kebangsaan dan mars perjuangan berkumandang, seolah mengikat hati yang hadir dalam satu frekuensi pengabdian.

Sidang demi sidang berjalan tertib namun hidup. Dalam Sidang Pleno I hingga III, pembahasan tata tertib, LPJ, hingga laporan komisi berlangsung lancar—“sat set”, cepat namun tetap bermakna.

Puncak dinamika terjadi pada Sidang Pleno IV, saat pemilihan kepemimpinan baru. Lima tokoh kiai yang tergabung dalam Ahlul Halli wal Aqdi (AHWA) bermusyawarah menentukan Rais Syuriyah. Hasilnya, terpilih M. Choirul Anwar, S.Pd.I sebagai Rais Syuriyah.

Namun, jalan menuju pemilihan Ketua Tanfidziyah sempat menghadirkan perdebatan hangat. Dua arus mengemuka—antara musyawarah mufakat dan voting. Forum sempat menemui kebuntuan, hingga akhirnya diputuskan melalui voting cara memilih: 12 suara memilih musyawarah mufakat, dan 10 memilih voting. Keputusan pun kembali pada ruh Aswaja: musyawarah mufakat.

Dalam suasana yang mulai tenang, nama H. Muhammad Dzulkhoiri, S.Pd., M.Si—ketua demisioner—kembali menguat. Tidak ada usulan lain yang muncul. Forum pun sepakat, dengan bulat dan tanpa ragu, untuk melanjutkan kepemimpinan beliau. Rais Syuriyah terpilih menyetujui, dan jama’ah mengamini.

Palu sidang diketuk. Bukan sekadar tanda keputusan, tetapi simbol kesepakatan hati.

Lebih dari Sekadar Forum

Musyran ini menyisakan kesan mendalam. Ada haru yang mengalir pelan, ada kebanggaan yang tumbuh diam-diam. Silaturahmi terasa begitu hidup, gotong royong menjadi nyata, dan tradisi keulamaan tetap berdiri tegak di tengah arus zaman.

Pesan-pesan yang mengemuka pun sederhana namun kuat:

“Jaga kekompakan, rawat tradisi, dan kawal program keumatan.”

“NU ini rumah besar, jangan retak karena kepentingan pribadi.”

“Siapapun yang terpilih, semua wajib terlibat. Jangan hanya jadi penonton.”

Harapan yang Tumbuh dari Desa

Dengan selesainya Musyran ini, harapan pun tumbuh seperti benih di tanah yang subur. Diharapkan kepengurusan baru mampu menjalankan amanah dengan militansi dan keikhlasan. Ranting NU Sambongdukuh diharapkan semakin hidup—pengajian rutin berjalan, badan otonom aktif, dan data jama’ah tertata rapi.

Lebih jauh, masyarakat desa diharapkan semakin merasakan kehadiran NU, tidak hanya dalam aspek keagamaan, tetapi juga sosial dan ekonomi. Dari santunan yatim hingga pendampingan umat, semuanya menjadi ladang pengabdian.

Karena pada akhirnya, kekuatan NU tidak hanya lahir dari pusat, tetapi justru dari ranting—dari desa-desa seperti Sambongdukuh, tempat nilai-nilai Ahlussunnah wal Jama’ah dirawat dengan penuh cinta.

Musyran ini bukanlah akhir, melainkan awal. Sebuah titik start baru dalam perjalanan panjang pengabdian.

Dan di Sambongdukuh, nyala itu kembali dijaga.


Komentar (0)

Tulis Komentar
Komentar akan dimoderasi sebelum tayang.