Suasana pengajian rutin Dakwatul Khoirot malam itu terasa hangat dan khidmat. Lantunan doa dan shalawat mengalun lembut, seolah merangkul setiap hati yang hadir untuk kembali mengingat tujuan hidup: mencari ridha Ilahi. Di tengah kebersamaan itu, disampaikan ucapan selamat kepada Rois Syuriah terpilih dan Ketua Tanfidziyah terpilih masa khidmat 2026–2031. Harapan pun terangkai, agar kepemimpinan baru ini mampu menjaga amanah dan meneruskan perjuangan para pendahulu.
Pengajian Dakwatul Khoirot sendiri bukanlah kegiatan baru. Ia telah lama berjalan, menjadi denyut nadi spiritual masyarakat. “Monggo dilanjutkan sampai ila yaumil qiyamah,” begitu pesan yang disampaikan—sebuah ajakan sederhana namun sarat makna, agar tradisi baik ini terus hidup lintas generasi.
Menariknya, pengajian kali ini bertepatan dengan 21 April, hari yang dikenal sebagai Raden Ajeng Kartini. Sosok perempuan tangguh yang bukan hanya memperjuangkan pendidikan, tetapi juga menjadi simbol kebangkitan martabat wanita. Dalam kajian disampaikan bahwa jauh sebelum gaung emansipasi menggema luas, telah berdiri pondok pesantren untuk santri putri di Indonesia sekitar tahun 1940 di Pondok Pesantren Mambaul Ma'arif Denanyar, yang kemudian dikenal dengan nama Khotijah. Sebuah bukti bahwa pendidikan perempuan telah lama menjadi bagian penting dalam tradisi keilmuan Islam di Nusantara.
Bahkan disebutkan pula bahwa Raden Ajeng Kartini pernah merasakan kehidupan mondok, menimba ilmu dan nilai-nilai kehidupan dari lingkungan pesantren. Hal ini menegaskan bahwa akar perjuangan perempuan tidak terlepas dari nilai-nilai agama dan akhlak.
Dalam tausiyahnya, disampaikan pesan yang menggugah: seorang laki-laki tidak akan mampu memuliakan wanita jika dirinya belum mulia. Kemuliaan bukan hanya soal kedudukan, tetapi tentang akhlak, sikap, dan tanggung jawab. Teladan itu telah dicontohkan oleh Nabi Muhammad, yang begitu memuliakan perempuan—baik sebagai istri, putri, maupun bagian dari umatnya. Beliau menunjukkan kelembutan, kasih sayang, serta keadilan yang luar biasa, bahkan kepada orang-orang yang pernah memusuhinya.
Keistimewaan Nabi Muhammad juga tampak dari kebijaksanaannya dalam menghadapi musuh. Tidak dengan kebencian, tetapi dengan akhlak yang luhur, hingga banyak hati yang akhirnya luluh dan menerima kebenaran.
Di akhir pengajian, disampaikan sebuah kisah reflektif tentang seorang sahabat yang begitu yakin bahwa amal ibadahnya banyak dan akan membawanya ke surga. Namun ketika proses hisab berlangsung, memang benar pahalanya melimpah. Ia pun berjalan menuju surga dengan penuh keyakinan. Akan tetapi, di tengah perjalanan, datanglah orang-orang yang menuntut haknya—urusan hablum minannas yang belum terselesaikan. Amal yang banyak itu pun menjadi tidak cukup, karena hubungan dengan sesama manusia belum ditunaikan dengan baik.
Kisah itu menjadi penutup yang menggetarkan: bahwa ibadah kepada Allah harus berjalan seiring dengan kebaikan kepada sesama. Sebab surga bukan hanya tentang banyaknya amal, tetapi juga tentang bersihnya hati dan lurusnya hubungan dengan manusia.
Pengajian malam itu pun usai, namun pesan-pesannya tetap tinggal—mengalir pelan dalam dada, mengajak setiap jiwa untuk terus belajar, memperbaiki diri, dan menebar kebaikan. Sebab dalam setiap doa yang dilangitkan, selalu ada harapan agar hidup ini berakhir dengan husnul khatimah.