prnusambongdukuh@gmail.com 085101983375/081330893547
JAYATANA Sambong Santren Sambongdukuh: Tradisi Tahlil Berjalan Puluhan Tahun, Menguatkan Spirit Keislaman Warga NU
Kegiatan 27 April 2026 Administrator NU 47 dibaca

JAYATANA Sambong Santren Sambongdukuh: Tradisi Tahlil Berjalan Puluhan Tahun, Menguatkan Spirit Keislaman Warga NU


JAYATANA Sambong Santren Sambongdukuh: Tradisi Tahlil Berjalan Puluhan Tahun, Menguatkan Spirit Keislaman Warga NU

Sambongdukuh, Jombang — Semangat kebersamaan dan kekuatan tradisi keagamaan kembali terasa hangat dalam pengajian rutin JAYATANA (Jama’ah Yasin, Tahlil, dan Nariyah) yang digelar warga RW 02 RT 02 hingga RT 05 Sambongsantren, Desa Sambongdukuh Jombang ( PARNU Sambong Santren ). Kegiatan ini berada dalam naungan Nahdlatul Ulama melalui PRNU Sambongdukuh, dan telah istiqamah berjalan selama puluhan tahun sejak dirintis oleh para kiai Sambongsantren.

Pengajian rutin JAYATANA menjadi salah satu pilar spiritual masyarakat setempat. Dilaksanakan setiap dua pekan sekali secara bergilir dari rumah ke rumah anggota, kegiatan ini bukan sekadar rutinitas ibadah, tetapi juga ruang silaturahmi yang mempererat ukhuwah Islamiyah warga.

Pada pelaksanaan Ahad, 26 April 2026, majelis berlangsung di kediaman Bapak Suhariyono. Acara diawali dengan pembukaan sederhana oleh Ustadz Aan, kemudian dilanjutkan dengan penyampaian kultum oleh Ustadz H. Abul Abbas Ubaid, Lc., yang juga menjabat sebagai Wakil Katib PRNU Sambongdukuh. Dalam tausiyahnya, beliau mengangkat tema makna doa yang kerap dibaca umat Islam.

Ia menegaskan bahwa bacaan “Rabbanaa aatinaa fid-dunyaa hasanah wa fil aakhirati hasanah” bukan sekadar penutup doa, melainkan harapan menyeluruh akan keselamatan dunia yang mengantarkan pada kebahagiaan akhirat. “Kita tidak hanya meminta kebaikan di dunia, tetapi juga keselamatan menuju akhirat dan kebaikan dalam segala aspek kehidupan,” tuturnya di hadapan jamaah.

Suasana khidmat berlanjut dengan pembacaan Surat Yasin yang dipimpin oleh Ustadz Azis Asy'ari Al Hafidz, diikuti lantunan sholawat nariyah yang menggema penuh kekhusyukan. Agenda berikutnya adalah pembacaan tahlil yang dipimpin oleh Bapak Sutrisno selaku Ketua JAYATANA, menjadi penutup rangkaian dzikir yang sarat makna.

Acara kemudian ditutup dengan doa tahlil bersama, sebelum jamaah menikmati momen ramah tamah. Obrolan ringan, saling berjabat tangan, dan berpamitan kepada tuan rumah menjadi penutup hangat yang mencerminkan nilai-nilai kebersamaan khas warga NU.

Keberlangsungan JAYATANA hingga kini menjadi bukti kuatnya tradisi keagamaan yang hidup di tengah masyarakat. Lebih dari sekadar ritual, kegiatan ini adalah warisan spiritual yang terus dijaga, memperkokoh iman sekaligus mempererat persaudaraan antarwarga.

Komentar (0)

Tulis Komentar
Komentar akan dimoderasi sebelum tayang.