Suasana haru dan penuh syukur menyelimuti gelaran Musyawarah Ranting (MUSRAN) PRNU Sambongdukuh ketika sebuah kabar membahagiakan diumumkan secara langsung oleh Ketua MWCNU Jomkot, KH. Abd Rozaq Sholeh. Dalam momentum tersebut, sahabat Bahruddin—yang akrab disapa Cak Udin—dipanggil ke hadapan forum untuk menerima program perdana “Bedah Rumah” dari MWCNU Jomkot, sekaligus penyerahan sertifikat secara simbolis.Program ini menjadi bukti nyata janji Allah SWT kepada hamba-Nya, sebagaimana diyakini dalam ungkapan “min haisu la yahtasib”—datangnya rezeki dari arah yang tak disangka. Cak Udin, yang selama ini dikenal sebagai sosok pengabdian tulus dalam barisan Banser Ansor, tak kuasa menahan haru. Wajahnya berkaca-kaca, sesekali mengusap air mata sebagai wujud syukur atas nikmat yang diterimanya melalui jalan khidmat di Nahdlatul Ulama.
Agenda bedah rumah tersebut resmi dimulai pada Rabu legi, 29 April 2026, ditandai dengan peletakan batu pertama oleh KH. Abd Rozaq Sholeh selaku Ketua MWCNU Jomkot. Kegiatan ini turut dihadiri oleh Kepala Desa Sambongdukuh, Bapak Khairur Roziqin, Rois Syuriah Kyai Choirul Anwar, Ketua PRNU Sambongdukuh HM. Dzulkhoiri, Ketua GP Ansor Ranting Sambongdukuh Sahabat Ferry Zakaria, Wakil Ketua PRNU Zainul Arifin, serta para tokoh agama dan masyarakat setempat.
Rangkaian acara berlangsung khidmat dan sarat makna. Diawali dengan sambutan Ketua MWCNU Jomkot, kemudian dilanjutkan dengan prosesi peletakan batu pertama secara bergantian oleh para tokoh yang hadir, diiringi lantunan sholawat yang menambah suasana religius. Acara ditutup dengan doa bersama serta pemotongan tumpeng oleh Ketua MWCNU bersama Kepala Desa Sambongdukuh sebagai simbol kebersamaan dan rasa syukur.
Di tengah kebahagiaan tersebut, Cak Udin mengungkapkan tekadnya untuk terus berkhidmat. Sebagai anggota Banser yang menjabat Satkorkel Ranting NU Sambongdukuh, ia telah terbiasa mengabdikan diri tanpa mengenal waktu dan tempat. Bahkan, panggilan tugas sering membawanya hingga ke tingkat MWCNU dan PCNU. Dalam hatinya terpatri komitmen, “Kulo ikut yai, ngawal poro yai dimanapun,” sebagai bentuk loyalitas kepada para ulama dan organisasi.
Dalam sambutannya, KH. Abd Rozaq Sholeh juga menegaskan pentingnya sikap tegak lurus kepada NU dan para kiai. Ia berharap program bedah rumah ini tidak berhenti di satu titik, melainkan dapat terus bergulir ke ranting-ranting lain, seiring dengan kesiapan pendanaan. Dukungan penuh juga datang dari para kader muda Banser Ansor yang turut serta menyumbangkan tenaga dalam gotong royong pembangunan rumah Cak Udin.
Program ini bukan sekadar pembangunan fisik, melainkan simbol kuatnya solidaritas, pengabdian, dan keberkahan dalam berorganisasi. Dari Sambongdukuh, semangat kebersamaan itu menyala—menjadi inspirasi bahwa setiap pengabdian tulus akan berbuah kebaikan yang tak terduga.saya