Semangat konsolidasi organisasi terasa hangat mengalir dari Desa Sambongdukuh, Jombang. Usai gelaran Musyawarah Ranting NU (MUSRAN) pada 17 April 2026, satu pekerjaan penting yang belum tuntas akhirnya dirampungkan: penyusunan struktur kepengurusan PRNU Sambongdukuh Jombang khidmat 2026–2031.
Demi menjaga tertib administrasi dan memastikan proses berjalan sesuai mekanisme organisasi, penyusunan struktur dipercayakan sepenuhnya kepada tim formatur hasil MUSRAN. Proses ini dilaksanakan secara estafet hingga mencapai puncaknya pada Rabu malam, 22 April 2026, bertempat di Rumah Makan Seafood Muphus, Jl. KH. A. Wahab Hasbullah, Sambongdukuh, Jombang.
Forum tersebut dihadiri lengkap oleh seluruh tim formatur, Rois Syuriah dan Ketua Tanfidziyah terpilih, serta didampingi oleh Sekretaris MWCNU Jombang Kota. Suasana serius namun cair langsung terasa sejak awal acara.
Kegiatan dibuka oleh Ketua Tim Formatur, Kyai Drs. Baidlowi, M.Ts, yang menegaskan pentingnya soliditas dalam menyusun kepengurusan. Sambutan kemudian disampaikan oleh Wakil MWCNU Jombang Kota, H. Abd. Basit Misbachul Fitri, M.HI, yang juga menjabat sebagai sekretaris MWCNU, dengan pesan agar struktur yang disusun mampu menjadi motor penggerak jam’iyah dan Jama'ah di tingkat ranting.
Memasuki agenda inti, satu per satu usulan nama dan posisi mengalir dari berbagai anggota tim formatur. Diskusi berlangsung dinamis, bahkan sesekali diselingi nuansa hangat penuh canda. Salah satu momen menarik muncul saat Ustadz Ridwan Zain, S.Sos mengusulkan agar komposisi tidak berhenti pada angka “43”. Usulan tersebut disambut gurauan oleh Rois Syuriah terpilih, yang spontan menimpali, “Wah, 43 lagi….”
Namun di balik canda itu, muncul gagasan filosofis yang kuat. Ustadz Ridwan mengusulkan komposisi 4 dan 5 yang melambangkan “Bintang Sembilan”—ikon Nahdlatul Ulama. Usulan tersebut mendapat persetujuan forum. Dari sinilah kemudian dilakukan pencermatan mendalam untuk mencari figur-figur terbaik, para kiai, penggerak NU, kawula muda, hingga praktisi yang siap berkhidmat.
Hasilnya, nama-nama strategis pun mengemuka. Mochammad Aminullah, SE ditetapkan sebagai Wakil Ketua Tanfidziyah ke-5, sementara Bahrul Ulum, S.Th.I mengisi posisi Wakil Bendahara ke-4. Proses ini menunjukkan keseriusan forum dalam meramu komposisi yang tidak hanya simbolis, tetapi juga fungsional.
Akhirnya, struktur lengkap kepengurusan PRNU Sambongdukuh berjumlah 45 personel berhasil disusun, mewakili tiga dusun yang ada. Komposisi tersebut mencerminkan kolaborasi lintas generasi dan peran: dari para kiai, pengerak NU, aktivis NU, generasi muda, hingga kader terbaik organisasi.
Pembacaan struktur dilakukan langsung oleh Ketua Tanfidziyah terpilih, H. Muhammad Dzulkhoiri, S.Pd., M.Si, dengan penuh ketegasan. Setelah forum menyatakan tidak ada lagi tambahan usulan, pimpinan rapat Kyai Baidlowi secara resmi mengetok palu sebagai tanda berakhirnya proses pembentukan struktur kepengurusan.
Sebagai tindak lanjut, dilakukan penandatanganan notulen rapat. Seluruh berkas administrasi kemudian dipersiapkan untuk segera dikirim ke PCNU Kabupaten Jombang, dengan tembusan ke MWCNU Jombang Kota, sebagai bagian dari persyaratan pengajuan dan penerbitan SK resmi kepengurusan.
Rangkaian acara ditutup dengan doa oleh Rois Syuriah terpilih, kyai Moch. Choirul Anwar, S.Pd.I, yang memohon keberkahan dan kelancaran dalam menjalankan amanah organisasi ke depan. Momen kemudian dilanjutkan dengan foto bersama dan ramah tamah, diiringi hidangan khas seafood yang telah disiapkan panitia.
Malam itu bukan sekadar forum rapat, melainkan titik awal perjalanan baru. Dari Sambongdukuh, semangat “Bintang Sembilan” kembali dinyalakan—siap menerangi langkah khidmat Nahdlatul Ulama di tingkat akar rumput.